Login

or


Email
Password

Mylife

5 ALASAN KENAPA HARUS STOP CURHAT DI MEDIA SOSIAL

Abis diomelin guru killer di kelas, posting. Berantem sama pacar, posting. Rasanya, seluruh dunia harus tau kita lagi mengalami apa tiap harinya. It might be fun, tapi kita harus tau nggak semua hal cocok buat ditumpahin di media sosial, dan ini alasannya!

 

KENAPA SESEORANG SUKA CURHAT DI MEDIA SOSIAL?

Media sosial memang jadi wadah buat berbagi hal-hal seru tentang seseorang kepada followers-nya. Nggak cuma hal-hal lucu dan inspiring, tapi juga beberapa hal yang mendekati pribadi. Bisa tau hal pribadi dari sosok yang kita nggak terlalu kenal (atau bahkan nggak kenal sama sekali) aja bisa bikin kita ngerasa dekat dengan orang tersebut, misalnya saat artis idola kita nge-post tempat makan favorit dia, cerita soal kegiatannya di hari itu , atau bikin polling baju mana yang harus dia pakai bikin interaksi singkat kita terasa matters.

Di satu sisi, pas kita di posisi yang nge-share, secara nggak langsung ngeliat jumlah viewers yang muncul bikin kita ngerasa sejumlah itu juga yang tertarik sama konten kita. Nggak jarang, banyak dari kita yang ngerasa curhat atau mempertontonkan hal pribadi di media sosial bikin kita ngerasa lega dan terkesan ada yang memperhatikan. Ditambah lagi, kita bakal seneng banget saat respon dan komentar suportif berdatangan. Makanya saat kita lagi dilanda emosi, entah itu marah atau sedih, media sosial seakan jadi wadah buat melegakan perasaan meledak-ledak secara instan yang susah kita curahkan ke orang lain secara langsung, terutama saat kita lagi sendirian dan nggak ada sosok yang stanby buat diajak curhat.

 

Curhat yang kita tulis di media sosial akan jadi konsumsi publik dengan beragam reaksi biarpun sudah dibikin se-private apapun

Tapi kadang kita suka nggak sadar nih, kalau curhatan atau hal pribadi yang rela kita jadikan tontonan bisa ngasih dampak negatif yang justru merugikan kita, misalnya kayak hal-hal berikut;

Peluang Untuk Membuka Aib Sendiri

Curhat dan berkeluh kesah tentang hal-hal pribadi bikin kita secara nggak langsung mengekspos aib kita sendiri. Saat kita mencurahkan kekesalan dan kesedihan di media sosial, nggak semua orang yang menonton dan melihat punya pikiran sama dan ngasih support yang positif, bisa jadi apa yang kita curhatin di media sosial justru ngasih tau kekurangan yang kita punya dan bikin orang berasumsi buruk soal kita.

 

Sering Curhat di Media Sosial Justru Jadi Kebiasaan Buruk

Mencurahkan isi kepala dan nggak dipendam terlalu lama memang bagus buat psikis kita, tapi kalau menjadikan media sosial sebagai diary justru memupuk kebiasaan buruk, terutama dalam menahan emosi dan jadi terlalu sering menumpahkan emosi ke bukan pada tempatnya. Kita juga jadi nggak belajar gimana caranya menghadapi masalah secara langsung karena udah terlalu sering ngeluarin uneg-uneg lewat media sosial. Nah giliran harus menyelesaikan secara langsung, bingung gimana harus bersikap. Hmm...

 

Curhatan Kita Bisa Jadi Bumerang dan Penyesalan

Dilansir dari PBS.com, profeso psikologi University of Wisconsin – Green Bay mengatakan kalau emosi yang kita lepaskan di media sosial punya sifat yang sementara, tapi bisa punya dampak yang lebih parah karena curhatan tersebut tersebar dan dibaca banyak orang. Bisa aja kan orang lain yang membacanya jadi tersindir, merasa kalau curhatan tersebut ditujukan buat dia, dan memicu kemarahan dan persoalan yang lebih panjang. Awalnya lega, tapi bisa bikin masalah baru. Nggak jarang juga begitu udah nggak emosi, kita baru ngerasa kalau apa yang kita tumpahkan di media sosial itu nggak banget, dan bikin kita menyesal banget udah share ke media sosial demi kelegaan sesaat, tapi udah terlambat karena udah dilihat banyak orang. Belum ditambah curhatan yang kita share di media sosial AKAN ADA TERUS SELAMANYA di media sosial, nggak peduli seberapa besar usaha kita untuk menghapusnya. Dan bisa aja curhatan kita tersebut akan dimanfaatkan oleh orang lain, untuk maksud baik ataupun buruk.

 

Curhat Di Media Sosial Nggak Memberi Solusi Apa-Apa

Mungkin kita ngerasa kalau dengan curhat ke media sosial,  bakal dapet banyak input dari para followers yang melihat. Sesimpel kalimat ‘sabar ya’ dari salah satu followers aja udah bikin kita merasa dipedulikan. Tapi yang kita nggak sadar, curhat di media sosial justru kebanyakan nggak ngasih solusi apapun selain mempertontonkan emosi kita ke banyak orang. Ujung-ujungnya, kita cuma cukup puas dengan kalimat-kalimat suportif sambil memikirkan solusinya sendiri. Ditambah lagi, kita seakan membuka pintu selebar-lebarnya untuk orang-orang nge-judge dan ngomongin kita tanpa ngasih hal positif apapun. Serius deh, orang-orang di luar sana pun nggak akan peduli soal masalah pribadi kita.

 

Curhatan Kita Bisa Bikin Malu Pihak Lain

Poin terakhir ini ditujukan untuk kita yang suka banget curhat sambil mention orang-orang yang terlibat di masalah yang lagi berlangsung. Nggak cuma kita aja yang harus nerima akibat dari curhatan kita yang panjang lebar di media sosial, tapi juga pihak-pihak lain yang berhubungan sama kita. Misalnya curhat soal berantem sama pacar, sambil mention dia dan ngasih kata-kata sebagai peluap emosi kita. Nggak semua orang menikmati ‘spotlight’ yang kita kasih di media sosial dan jadi tontonan orang, bisa jadi pacar kita justru malu dan bingung karena ulah kita sendiri. Ibarat peribahasa ‘udah jatuh tertimpa tangga’, masalah sama pacar tambah gede, jadi bahan omongan negatif netizen pula. Udah siap? Daripada panjang lebar menjelaskan di media sosial, lebih baik diomongin berdua sampai masalahnya selesai.

 

Once you shared it you can't erase it. Namanya juga media sosial, curhat kita selain jadi konsumsi publik juga jadi ajang reaksi beragam dari yang melihat

Kesimpulannya, cuma kita yang bisa menahan hasrat untuk membagikan hal-hal yang sifatnya emosional dan pribadi ke media sosial. Nggak bisa dipungkiri kalau media sosial udah jadi bagian dari kehidupan kita, dan sharing hal-hal yang menjadi kan kita pusat perhatian memang semenyenangkan itu. Tapi pikirkan juga kalau nggak semuanya harus kita share demi mendapat perhatian dan melegakan rasa emosi yang meledak. Kalau upaya menahan nggak curhat di media sosial belum efektif, mungkin kita bisa belajar dari artikel ALASAN KENAPA BERHENTI DARI MEDIA SOSIAL berikut, dan belajar buat nikmatin hari-hari tanpa media sosial sejenak.


Foto: Shutterstock, Salamtoday.com, mic.com, protechsecurity.com  

Related Articles

Cara mengatasi writer block

Ketemu sama keadaan dimana kita bingung mau nulis apa atau mau bikin apa padahal keadaannya kita lagi dikejar deadline! Ini dia cara mengatasi writer block

Cara LDR Agar TIdak Bosan

LDR juga tetep bias nyenengin kok! Simak tipsnya.

PROJECT BARENG SAUDARA

Apa aja plus minus bikin project bareng saudara?

Share Article To

Leave a Comment
0 comments
You must be logged in to post a comment.