Login

or


Email
Password

Mylife

BULLYING VS SENIORITAS, ADAKAH BEDANYA?

Di tahun 2018, Komisi Perlindungan Anak melaporkan setidaknya ada sekitar 36 kasus korban kekerasan dan bullying yang terjadi di ranah pendidikan Indonesia. Kasus-kasus senior menggencet junior masih terus bermunculan. Hal ini bikin kita bertanya-tanya, masihkah bentuk penindasan senior ke junior dibenarkan sebagai lambang penghormatan ke yang lebih tua?

 

MENGAPA SIH HARUS ADA SENIORITAS?

Kata ‘senioritas’ mungkin erat kaitannya dengan tindakan bullying, dan udah membudaya di Indonesia. Sepertinya lumrah aja begitu kakak kelas melakukan tindakan yang menekan para junior sesuai dengan keinginannya, dan berujung kekerasan baik secara fisik maupun mental.

Padahal, sebenarnya budaya senioritas nggak harus selalu berujung dengan bullying. Pada dasarnya, senioritas harus menjadi budaya positif untuk mendidik para junior menjadi sosok yang lebih bertanggung jawab, dan menumbuhkan sifat hormat kepada orang yang lebih tua. Seperti apa yang Mama dan Papa kita lakukan di rumah, atau guru di kelas. Jelas mereka lebih senior daripada kita, tetapi mereka tetap mendidik tanpa harus mengintimidasi dengan plonco seperti banyak kasus yang sering ditemui di sekolah. Kini, senioritas dan bullying malah jadi tradisi yang diwariskan turun-temurun. Nggak hanya harus terima nasib untuk di-bully saat jadi junior, tapi juga siap-siap untuk mem-bully generasi di bawahnya sebagai ajang balas dendam.

 

BURUKNYA EFEK SENIORITAS YANG SALAH

Di awal tahun 2019, dunia pendidikan digegerkan dengan video kasus kekerasan yang dilakukan oleh para senior Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) di Aceh kepada juniornya. Dalam video yang beredar viral tersebut, para junior harus memakan makanan berbentuk encer secara paksa yang sudah disiapkan oleh mereka. Terlihat juga banyak yang memuntahkan makanan karena nggak tahan dan merasa jijik. Nggak hanya itu, kasus yang mengenaskan juga dialami Aldama Putra, mahasiswa Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan (ATKP) Makassar yang meninggal dunia setelah dipukuli kakak kelasnya tanpa alasan yang terjadi bulan Februari 2019 lalu.

Dua contoh kasus di atas menunjukkan, bagaimana budaya senioritas udah makin bergeser dan sering disalahgunakan. Kalau nggak segera dihentikan, tentunya dampak bullying ini mengancam semua pihak yang terlibat, mulai dari mereka yang di-bully, yang mem-bully, yang menyaksikan bullying, bahkan sekolah dengan isu bullying secara keseluruhan.

Senioritas dan bullying punya pengaruh buruk terhadap kesehatan fisik maupun mental baik pelaku maupun korbannya. Bila dibiarkan, para pelaku bullying akan selalu beranggapan kalau kekerasan selalu bisa menjadi solusi, dan juga memberi kekuasaan. Sehingga pelaku akan selalu punya kebutuhan untuk mendominasi orang lain dengan cara menindas, dan yang terburuk adalah mengarah pada tindakan kriminal.

Begitu juga pada korban bullying, mereka bisa kehilangan rasa percaya diri, menurunnya prestasi, depresi, hingga keinginan untuk bunuh diri demi menyudahi rasa nggak nyaman terus-terusan di-bully. Efek buruk juga bisa menerpa para “penonton” aksi bully tersebut. Kalau senioritas dan bullying terus-terusan dibiarkan, orang-orang yang menyaksikan bullying tersebut akan menganggap kalau senioritas dan bullying adalah hal yang biasa aja dan wajar dilakukan. Nggak ada rasa simpati, bahkan nggak merasa kalau bullying perlu dihentikan.

 

BUDAYA SENIORITAS DAN BULLYING MASIH BISA DIATASI KOK!

Seperti yang pernah Happifyourworld bahas soal mengatasi tindak bullying, nggak ada yang bisa memutus tindakan senioritas kalau bukan diri kita yang berani untuk bertindak. Perlu diingat, generasi yang dibutuhkan buat membangun negara ini di masa depan bukan generasi yang cuma tahan kalau dipukul dan ditindas, terus diam aja atau bahkan membalas ke generasi selanjutnya. Bukan juga generasi yang ngerasa kalau menindas adalah solusi untuk mendapat kekuasaan. Yang dibutuhkan di masa depan justru generasi yang kritis dan bisa mendeteksi hal-hal yang salah untuk dilakukan.

Kalau kita menjadi korban atau melihat kejadian dari senioritas yang salah dan berujung pada kasus bullying, jangan segan dan takut untuk melawan dan melaporkan tindakan ini kepada pihak sekolah ataupun orangtua. Dengan melakukan perlawanan, para pem-bully pun akan merasa kalau intimidasi yang mereka lakukan nggak akan mempan terhadap kita. Begitu juga nantinya saat kita menjadi senior, didiklah junior tanpa menggunakan kekerasan, plonco, ataupun bertindak semaunya hanya karena kita lebih tua. Karena apa yang kita lakukan pastinya punya konsekuensinya masing-masing.

Karena senioritas nggak seharusnya menjadi ajang untuk menyakiti, mem-bully, apalagi menjadi budaya yang lumrah untuk melampiaskan dendam.


Foto: Shutterstock

Related Articles

Cara mengatasi writer block

Ketemu sama keadaan dimana kita bingung mau nulis apa atau mau bikin apa padahal keadaannya kita lagi dikejar deadline! Ini dia cara mengatasi writer block

Cara LDR Agar TIdak Bosan

LDR juga tetep bias nyenengin kok! Simak tipsnya.

PROJECT BARENG SAUDARA

Apa aja plus minus bikin project bareng saudara?

Share Article To

Leave a Comment
0 comments
You must be logged in to post a comment.