Login

or


Email
Password

Mylife

LEARN FROM MICHELLE PHAN: PIKIRIN HAL INI SEBELUM JADI INFLUENCER

Sering diundang ke acara hits dan dapet berbagai produk gratis dari brand ternama mungkin jadi salah satu faktor kenapa banyak yang tergiur jadi influencer. Padahal sih kenyataannya nggak sesederhana itu!

Dengan hanya bermodalkan sosial media dan konten menarik, sekilas jadi influencer dirasa gampang banget buat dilakuin. Apalagi dengan segala keuntungan dan privilege yang bakal kita dapat, misalnya di-endorse brand, semakin bikin kita terhanyut kalo jadi influencer itu adalah jalan pintas yang paling mudah buat ngedapetin penghasilan. Padahal kenyataannya banyak hal yang harus ditanggung sebagai influencer, dan kalau nggak kuat salah-salah bisa jadi beban mental. Seperti yang dialami Michelle Phan.

 

MICHELLE PHAN DAN KENAPA DIA MENINGGALKAN DUNIA INFLUENCER (KALA ITU)

Sebelum nama Jefree Star dan James Charles, Michelle Phan adalah salah satu pioneer beauty influencer. Kiprah Michelle di dunia beauty dan influencer jadi impian semua cewek (ataupun cowok yang menyukai makeup). Gimana nggak, Michelle yang mulai karirnya melalui Youtube sejak tahun 2007 bisa dapetin deal kerja sama dengan brand-brand multibillion kayak L’oreal dan Lancome, jadi pembicara dan motivator di mana-mana, diundang ke segala event keren, terus sukses ngerilis beauty brand IPSI dan EM COSMETICS. Wow banget kan. Cantik, sukses, dipuja semua orang, punya pacar keren, siapa sih yang nggak pengen ada di posisi Michelle atau ngikutin jejaknya jadi seorang influencer?

Tapi apakah dia bahagia? Nggak juga lho. Di balik semua gemerlap yang dialami Michelle, ada sisi lain yang ternyata bikin dia tertekan. Dan puncaknya adalah ketika Michelle mutusin berhenti total dari semua platform media sosial terutama Youtube tahun 2017 dan hal ini sontak bikin semua fans terkejut. Di video terakhirnya saat itu, “Why I Left,” Michelle ngaku ngalamin depresi. Dia merasa “who I was on camera and who I was in real life began to feel like a strangers.” Orang lebih melihat image-nya di depan kamera ketimbang melihat diri Michelle yang sebenarnya. Dan dia juga ngerasa kalo selama dia jadi influencer dan memposting kesehariannya di social media, dia mengkurasi kehidupan yang dia inginkan (supaya dilihat orang sebagai “picture perfect”), bukan kehidupan dia yang sebenarnya. Selain itu, waktunya juga habis untuk pekerjaannya sehingga Michelle nggak punya waktu buat ngejalanin kehidupannya sendiri. She felt depressed but she didn’t know why and she wanted to be forgotten by less online.

 

JADI INFLUENCER PASTI ADA UP AND DOWN-NYA

Dari kasus yang dialami Michelle, influencer itu sama kayak kerjaan celebrity. Ibarat gunung es, apa yang sebenarnya kita lihat cuma di permukaan dan porsinya sedikit banget, karena sebenarnya ada banyak kenyataan lain yang dialami oleh para influencers seperti Michelle. Misalnya yang baru aja terjadi, seorang Youtuber asal Amerika, Daniel Desmond Amofah atau dikenal dengan Etika. Di umurnya yang baru 29 tahun, Etika memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Beberapa hari sebelum dia melakukan hal tersebut, Etika sempet ngupload video tentang keinginannya untuk suicide dan diapun nyebut  kalau kita harus berhati-hati terhadap media sosial yang bisa jadi toxic buat kehidupan kita. Video ini sudah dihapus oleh pihak Youtube, tapi beberapa orang yang ngelihat bilang ini jadi reminder kalo dunia influencer dan dunia maya nggak selamanya terlihat indah.

 

INI YANG HARUS DIPERHATIKAN SEBELUM KITA MUTUSIN UNTUK JADI INFLUENCER

Sama seperti pekerjaan lainnya, influencer pun punya berbagai sisi dan inilah yang harusnya kita udah sadari sebelum kita mutusin untuk terjun ke dalamnya. Karena once kita mutusin untuk sharing di dunia maya, kita dianggap bisa ngadepin ups and down-nya, Termasuk penilaian orang terhadap kita.

Michelle menyadari self-image yang dia berikan selama ini via online keluar dari jalur, jadi dia mutusin untuk break dengan travelling dan nemuin kembali jati dirinya. Michelle berani ngakuin kalo image dirinya nggak seperti anggapan orang selama ini, but its okay because now she love herself more.

 

Nah kalo kamu masih tertarik untuk terjun menjadi influencer. Berikut hal-hal yang musti kamu ketahui dan pertimbangkan.

CHALLENGE #1: BUTUH MODAL YANG NGGAK SEDIKIT (MODAL BUKAN CUMA MASALAH UANG LHO)

Masuk ke dunia influencer itu nggak langsung tiba-tiba besok kita jadi terkenal dan dapet duit hasil monetize Youtube atau diundang ke event. Kita butuh akun media sosial yang nggak cuma sekedar aktif, punya engagements tinggi yang dilihat dari comments dan likes, tapi juga kuat dari sisi konten untuk mendatangkan calon followers baru. Dan untuk bikin konten menarik nggak bisa dipungkirin butuh modal (uang, tenaga, usaha, kemauan, dll) yang cukup besar sehingga bisa ngehasilin konten yang berkualitas dan mampu meng-influence orang-orang.

Misalnya ingin jadi beauty influencer, kita harus rajin nge-review berbagai produk makeup baik lokal maupun internasional brand. Dan karena kita masih pemula, produk makeupnya harus ngerogoh kocek sendiri. Gitu juga travel blogger yang harus beli tiket dan akomodasi sendiri, atau food blogger yang harus beli makanannya sendiri.

Bocoran yang lebih nyentil nih, tiap brand punya tolak ukur untuk nge-hired influencer. Jadi kalo konten kita dirasa masih standar-standar aja, ya jangan berharap bakal diendorse.

Selain konten, tiap influencer juga harus punya pesona yang beda. Ini disebut personal branding yang jadi self-image kita di mata followers. Entah itu dilihat dari editing video kita yang lucu, konten yang kita bawain atau cara pembawaan kita, everything can be a personal branding! Cuma ingat ya, jangan FAKE.

Supaya tampil beda, beberapa influencer pun harus rela ngeluarin budget lebih untuk personal branding mereka, misalnya beli kamera canggih, beli editing preset biar hasil foto keliatan beda, bikin logo branding, dan banyak lagi. Kitapun dituntut untuk konsisten supaya gampang dikenal orang, dan hal ini yang bikin kita nggak bisa menargetkan berapa lama kita harus mengeluarkan modal sendiri.

 

CHALLENGE #2: BENER-BENER MAKAN WAKTU DAN HARUS KONSISTEN

Banyak yang menganggap kalau jadi influencer berarti bisa melakukan banyak hal-hal seru dengan santai dan punya banyak waktu longgar. Wah salah banget!

Jadi influencer justru waktunya sangat padat karena dia harus nge-manage sendiri time schedule-nya. Bayangin aja untuk bikin satu konten video, influencer harus:

Banyak kan tuh? Belum kalo misalnya video kita ngelibatin pihak ketiga kayak influencer lain atau kerja sama dengan suatu brand. Dibutuhin effort dan dedikasi penuh dengan apa yang kita kerjakan. Jadi mau nggak mau kita nggak akan punya banyak waktu untuk main-main apalagi malas-malasan supaya bisa dapat recognition dan kepercayaan dari follower di media sosial.

 

CHALLENGE #3: KEGAGALAN HARUSNYA JADI HAL BIASA

Michelle Phan pernah gagal berkali-kali tapi dari situ dia belajar kegagalannya untuk bangkit. Contoh, gagal bekerjasama dengan L’Oreal pas membangun Em Cosmetics tahun 2013, akhirnya dia mampu merilis brand Em Cosmetics-nya sendiri, dan IPSY yang merupakan bisnis sampling beauty product berlangganan di Amerika. Diapun sempat dituntut oleh label musik karena dituduh pakai lagu tanpa izin, yang akhirnya bikin dia tergerak untuk membuat label musik sendiri.

Nah, postingan super estetik atau banjir likes dan comment nggak serta merta bikin seseorang langsung jadi influencer. Selain Michelle, udah banyak kok cerita gimana awal seorang influencer harus merasakan usaha yang keras dulu sebelum akhirnya seterkenal sekarang. Nggak jarang diantara mereka bahkan harus jatuh banget-banget, jalanin trial dan error sebelum akhirnya nemu ‘formula’ yang tepat buat ramuan kesuksesannya.

 

CHALLENGE #4: SIAP NGALAMIN HAL YANG BIKIN DOWN. MISAL: DIPANDANG SEBELAH MATA, HATERS, DAN SE-SIMPLE NGADEPIN NYINYIRAN ORANG.  

Karena terkesan ‘gampang’, nggak jarang karir sebagai influencer dipandang sebelah mata sama orang-orang di sekitarnya bahkan dari lingkungan terdekat seperti keluarga, khususnya orang tua yang mungkin belum percaya sepenuhnya sama dunia influencer dan sosial media. Begitu udah rilis video pun, pasti banget ada aja yang komen nggak enak bahkan haters. Sunny Dahye, beauty influencer dari Korea Selatan ini pernah cerita kalau dia sampe dibully teman-teman sekolahnya pas dia awal jadi Youtuber. Rachel Goddard sendiri pas awal jadi Youtuber pernah sampe dibikin meme buat ngejelek-jelekin dirinya sama netizen +62, tapi apakah mereka berdua berhenti total jadi influencer? Tentu nggak!

Mental gigih dan nggak gampang nyerah seperti inilah yang harus kita punya. Karena kalau kita nggak punya keduanya, baiknya sih cari karir lain aja. Because it’s hard to convince people without concistency and finally prove it, and how can you influence people if you cannot influence yourself to stay in the track?

Anyway, karir lain pun sebenarnya akan percuma dijalanin kalau kitanya sendiri berusaha aja nggak mau.

 

CHALLENGE #5: HARUS MAU BELAJAR HAL BARU

When it comes to an influencer thing, pastinya berhubungan sama hal-hal terbaru dan update. Dari sini juga, pastinya kita dituntut buat belajar hal baru supaya konten yang kita buat jadi lebih menarik. Saat tren konten lagi ke arah foto, pastinya kita belajar banyak hal untuk gimana cara mengambil gambar dengan bagus, edit foto sesuai karakter kita, sampai bikin caption yang menarik dan nggak cheesy. Begitu tren lagi mengarah ke vlog atau video pendek, nggak ada salahnya untuk belajar video editing atau shooting gambar yang menarik, supaya konten kita lebih kaya dan nggak ketinggalan tren. Beberapa tahun lalu mungkin kita terhibur banget baca tulisan-tulisan review di blog Eatandtreats milik Stanislaus Hans. Tapi sekarang, Hans tetap punya pasar yang nggak sedikit karena tetap meng-update cerita menarik lewat review singkat di akun Instagram-nya, plus menjaga engagement dengan para followersnya dengan berbagai cara. No wonder kalau dirinya masih jadi salah satu influencer top di Indonesia sampai sekarang.

Tapi perlu diingat, walaupun kita harus update dengan tren tapi tetap jaga personality brand kita sendiri dengan cara mengimplementasikannya si tren dan persona kita. Ini supaya kita nggak kehilangan pijakan karena rumput tetangga lebih hijau.

Selain itu yang harus diingat juga, pelajari baik-baik copyright dan fair use policy Youtube dan sosial media. Ini penting banget tapi jarang influencer memperhatikannya, apalagi kalo kita mau terjun jadi influencer yang menggunakan video dari influencer lain, untuk kebutuhan komedi misalnya. Konten yang menarik akan sia-sia kalau video kita malah dapat copyright strike dan terancam di-take down.

 

At the end, managing your self-branding isn’t as easy as we think. Jadi influencer menuntut kita buat jadi orang-orang bermental kuat yang bisa mengatur kehidupan supaya bisa dapetin kesuksesan dan tetap seimbang sama kehidupan di luar dunia maya. Butuh proses yang panjang sampai akhirnya kita bisa disebut sebagai influencer seperti yang kita kagumi sekarang. Tapi kalau kamu udah bertekad, nothing’s wrong with that! Kuncinya cuma ini, selalu gigih, be creative, and never let people underestimate you.

See you on top!


Foto: Shutterstock, Michelle Phan Doc.

Related Articles

Cara mengatasi writer block

Ketemu sama keadaan dimana kita bingung mau nulis apa atau mau bikin apa padahal keadaannya kita lagi dikejar deadline! Ini dia cara mengatasi writer block

Cara LDR Agar TIdak Bosan

LDR juga tetep bias nyenengin kok! Simak tipsnya.

PROJECT BARENG SAUDARA

Apa aja plus minus bikin project bareng saudara?

Share Article To

Leave a Comment
0 comments
You must be logged in to post a comment.