Login

or


Email
Password

Mylife

PACARAN JAMAN NOW: PROBLEM BARU SEJAK ERA DIGITAL?

Era digital nggak cuma ngubah habit kita dari sisi transportasi online atau delivery makanan aja. Tapi sadar atau nggak, era ini pun ngasih pengaruh besar sama kehidupan percintaan seseorang!

Berkaca dari pengalaman Papa dan Mama kita, rasanya pacaran sebelum ada era digital tuh simple banget. Berkenalan lewat tatap muka, atau berkirim surat sambil nunggu balasan dengan harap-harap cemas. PDKT dan pacarannya juga straightforward dan ketebak, dengan niat serius dan ending menuju pernikahan tanpa ribet. Rasanya semua berjalan lancar dan nggak rumit.

Tapi sadar nggak sih, semenjak adanya kehadiran era digital dan media sosial, pola hubungan percintaan jadi berbeda banget. Kalau diibaratin, dating di era sekarang kayak pisau bermata dua. Di satu sisi kesempatan buat ketemu orang jadi gampang dan instan banget, tapi di sisi lain ada juga kita bakal ketemu banyak kendala yang kayaknya nggak pernah terbayang untuk ditemuin di era sebelumnya, dan menjadikan hubungan percintaan tambah kompleks. Apa kamu ngerasain hal-hal ini?

 

LABEL YANG TERLALU BANYAK

Banyaknya informasi dan pola pikir yang diterima tentang relationship, bikin kita jadi punya banyak definisi soal hubungan cowok dan cewek. Makanya, dari situ muncul deh berbagai ‘label’ yang bikin hubungan percintaan jadi lebih rumit. Kalau dulu cuma ada ‘friendzone’ buat posisi bertepuk sebelah tangan, sekarang banyak banget istilah mulai dari ‘Breadcrumbling’ buat seseorang yang tetep ngejar tapi nggak pengen terilbat dalam hubungan yang serius, atau ‘Friends With Benefit’ buat orang-orang yang cuma mencari kepuasan lewat hubungan fisik tanpa terikat hubungan percintaan.

 Istilah-istilah yang ada juga jadi nunjukkin kalau hubungan percintaan sekarang sangat minim sama komitmen, dan itu yang bikin susahnya ngasih batas apakah hubungan yang dijalanin tersebut serius atau nggak. Antara takut disakitin kalau terlibat cinta serius, belum siap, atau ngerasa cukup independen untuk harus menginvestasikan perasaan ke orang lain terlalu dalam. Akhirnya, dibanding harus pakai label ‘pacaran’, beberapa orang lebih milih buat nggak ngasih status apa-apa ke hubungan mereka. Cukup hangout, ngobrol, but the relationship is more than just a friend.

 

BESARNYA ANDIL MEDIA SOSIAL

Since it’s a social media era, gaya pacaran seseorang bisa jadi berubah banget. Dari mulai kenalan, yang pertama kita selidikin adalah Instagram atau Facebook-nya. Pas pacaran, yang paling sering kita lakukan jadi sering upload kebersamaan di media sosial, bahkan pakai foto bareng pasangan di media sosial jadi matters banget buat sebagian orang.

Modern dating seakan mengubah ekspektasi seseorang soal relationship itu sendiri. Nggak sedikit orang yang menjadikan quality time bareng pacar sebagai ajang buat memberi tau semua orang kalau ‘we are a thing now, and we are THAT happy’, just to capture the perfect relationship. Sebaliknya, kalau punya pacar atau gebetan yang kebetulan bukan orang yang aktif di media sosial malah jadi masalah dan terkesan nggak menarik. Kasus lainnya, media sosial juga jadi tempat buat saling sindir lewat status kalau lagi berantem sama pacar.

Di satu sisi, intimacy and privacy yang dulu didapat dari berpacaran tanpa distraksi media sosial jadi berkurang banget, dan bikin kita kurang fokus sama hubungan itu sendiri. Di sisi lain saat kita memposisikan sebagai penonton, mau nggak mau kita jadi tau dan update soal apa yang terjadi dalam kehidupan percintaan seseorang walaupun tanpa diminta.

 

SUSAHNYA BUAT MANTAP DI SATU PILIHAN

Dibanding berkenalan sama orang baru secara langsung, kita ngerasa diberi kemudahan menemukan ‘calon pasangan’ lewat media sosial atau dating app yang semakin banyak. Otomatis, kesempatan buat ketemu dan kenal banyak orang jadi lebih besar tanpa harus effort dateng ke berbagai tempat, dan basa basi awkward saat face to face. Kita jadi terus-terusan swiping dan chat sama orang baru, walaupun lagi dekat juga sama orang lain. Cara ini juga sering jadi langkah buat deket dengan seseorang hanya untuk keuntungan secara seksual dan fisik aja tanpa mau tau lebih dekat secara personal sama lawan bicaranya.

Lain lagi kalau udah ngerasa cocok dan menuju ke arah serius, kendalanya adalah saat salah satu dari kita ngerasa ragu buat bener-bener ngejalanin komitmen dengan satu pilihan, akibat singkat dan instannya proses pengenalan. Apalagi saat pasangan punya kekurangan yang sulit kita tolerir, walaupun kadarnya kecil dan bukan sebuah prinsip sekalipun. Alasannya, karena sedikit banyak kita ngerasa yakin kalau di luar sana masih banyak pilihan yang mungkin lebih baik dari pilihan sebelumnya, dan kemungkinan buat ngedapetinnya juga besar. Karena semakin banyak pilihan, makanya kita jadi makin dihantui sama kebingungan buat mantap menentukan pilihan.

 

EASY COME AND EASY GO

Kemudahan ketemu orang baru di media sosial dan dating app juga bikin kita untuk menggampangkan sebuah hubungan yang udah terjadi. Kita mungkin ngerasa terbantu dengan less awkward conversation yang dilakukan cuma di balik smartphone masing-masing tanpa harus bertatap muka. Tapi, proses ini juga rentan bikin seseorang jadi kena ‘ghosting’ atau ditinggal tanpa alasan saat hubungannya nggak berjalan sesuai sama ekspektasi. Instead of telling people about how we feel, we choose to not text them and cut the conversation, or even block them. Di waktu yang bersamaan, kita bisa langsung cari orang lain sebagai penggantinya.

 

JADI MUDAH NGE-JUDGE ORANG DI PERMUKAAN KARENA CYBERSTALKING

Banyak contoh kasus judging atau langsung menghakimi, dan secara nggak sadar biasa kita lakukan di era modern dating kayak sekarang. Misalnya begini, di masa- masa menjomblo kita jadi giat nyari calon pacar lewat dating app atau media sosial. Fase judging kita dimulai saat ngeliat dari profil yang dia punya dan jadi indikator kita bakal lanjut buat swipe right atau swipe left. Without even know them deeply, we tend to say no because of many shallow things. Udah skeptis duluan kalau mereka nggak akan cocok sesuai ekspektasi kita.

Berlanjut ke saat udah kenal dan deket sama cowok, instead of building the conversation, kita malah sibuk nge-stalk dan pengen tau lebih jauh tentang dia. We are in a deep trust issue, dan judgement selanjutnya dateng dari data yang kita temuin via online tanpa ada konfirmasi apapun dari yang bersangkutan. Nemu foto cewek dan bikin kita mikir “is this her ex? Is this her friend? Kenapa deket banget?” yang bisa jadi padahal adalah adik atau kakaknya. At the end, kita jadi gampang banget curigaan akibat terlalu banyak sering menyimpulkan sesuatu yang muncul di media sosial miliknya.

Secara luas, masih banyak problem lainnya yang bisa kita temuin di era modern dating. Tapi bukan berarti kita jadi ikutan skeptis dan nggak nyoba untuk nemuin hubungan yang cocok. Karena balik lagi tiap individu bakal merasakan pengalaman yang berbeda-beda.  Give yourself a chance to learn things about what we could love about the guy we met, dan jangan lupa untuk selalu mengutamakan ngobrol lebih deep dibanding cuma sibuk stalking via online.


Foto: Shutterstock

Related Articles

Cara mengatasi writer block

Ketemu sama keadaan dimana kita bingung mau nulis apa atau mau bikin apa padahal keadaannya kita lagi dikejar deadline! Ini dia cara mengatasi writer block

Cara LDR Agar TIdak Bosan

LDR juga tetep bias nyenengin kok! Simak tipsnya.

PROJECT BARENG SAUDARA

Apa aja plus minus bikin project bareng saudara?

Share Article To

Leave a Comment
0 comments
You must be logged in to post a comment.