Login

or


Email
Password

Mylife

PARASOCIAL RELATIONSHIP: ANTARA NGEFANS ATAU HALU?

PARASOCIAL RELATIONSHIP: ANTARA NGEFANS ATAU HALU?

Hati-hati, kondisi parasocial relationship ini justru bisa mengarahkan kita ke halusinasi yang berlebihan!

 

A: “Eh gue suka deh sama Noah Centineo”

B: “Lah, baru ngefans? Udah lama kali dia terkenalnya, nggak cuma dari Netflix doang. Sekarang aja dia lagi ngerjain proyek film baru. Kemarin aja comment gue di-love sama Noah Centineo, OMG! Pasti dia ngeh kalo gue fans beratnya. Lo pernah nggak di-love balik? Nggak kan? ”

A: “Lo sehat?”

Nah, kalo pernah ada di situasi kayak obrolan di atas, bisa jadi salah satu dari kalian kena sindrom parasocial relationship sama idola favorit!

MENGENAL PARASOCIAL RELATIONSHIP

Menurut Horton and Wohl di jurnal “Mass Communication and Para-Social Interaction: Observations on Intimacy at a distance,” berbeda dengan parasocial interaction yang cuma merasakan, misalnya aja pas lagi hangout ke Sellie Coffee Yogyakarta yang bikin kita berasa kayak lagi ada di film Ada Apa Dengan Cinta 2, parasocial relationship adalah ketika media user (dalam hal ini penonton atau bisa juga penggemar) mengimajinasikan suatu hubungan dengan tokoh yang ada di dalam media tersebut hingga keluar dari cuma sekedar melihat atau mendengarkan.

Contohnya adalah ketika kita kagum atau ngefans sama selebriti atau karakter suatu film. Dan kita selalu ngebicarain dan mikirin dia, seperti layaknya dia itu salah satu “teman” kita. Nah hubungan kita sama tokoh atau karakter ini disebut parasocial relationship dan sifatnya hanya satu arah.

Menurut Thought.co, walaupun parasocial relationship ini terdengar asing tapi sebenarnya normal terjadi karena sifat manusia sebagai mahluk sosial. Dan surprisingly, parasocial relationship lebih melihat karakter dan personality dibandingnya melihat tampilan fisik. Menurut salah satu studi, orang bisa committed dengan parasocial relationship karena berbagai alasan, yaitu:

Misalnya di variety show Korea yang sering kita nonton ada salah satu idola yang kita suka. Kita jadi nge-fans, mengikuti informasi apapun tentang dia, dan mensupportnya via media sosial. Dengan semakin mudahnya akses digital saat ini, sangat memungkinkan untuk si idola yang kita suka mengetahui keberadaan kita bahkan melakukan interaksi secara personal. Apalagi kalo si idola tersebut aktif di media sosial. Tentu aja hal ini bikin kita ngerasa intim dan deket banget sama kehidupan sehari-harinya dengan sangat mendetail. Nggak sedikit juga yang merasakan koneksi ini dengan sangat dalam, sampai-sampai bisa ikut sedih saat sang idola mengalami kegagalan atau kesusahan, atau gelisah banget kalau idolanya nggak memberi update tentang apapun.

 

SO, SEBERAPA BESAR EFEK PARASOCIAL RELATIONSHIP INI BUAT KITA?

Once again, fenomena parasocial relationship ini sebenarnya wajar banget terjadi dan umum dirasakan oleh semua orang yang mengidolakan seseorang. Entah itu dari dunia entertainment ataupun politik, apapun. Dan efeknya bisa beragam, dari positif hingga negatif. Dalam konteks sebagai penggemar yang mengidolakan seorang selebriti atau idola, kita sebagai fans bisa ngerasain kepuasan tersendiri pas melihat idola kita. Menjadikan mereka role model sampe merasa kita merasa dekat layaknya teman/sahabat karena ada beberapa kesamaan yang membuat kita ngerasa relate banget dengan si idola. Apalagi kalo ketemu dengan orang-orang yang sama, parasocial relationship secara positif bisa memperdalam komunikasi, membentuk personal indentity dan jadi motivasi tersendiri.

Tapi yang berbahaya adalah saat ilusi yang diciptakan dari komunikasi satu arah ini membentuk halusinasi baru dalam diri kita, atau justru melakukan hal-hal negatif hanya demi bisa berinteraksi lagi dengan idolanya. Kita nggak sadar komunikasi parasocial relationship sebenarnya hanya satu arah aja. Walaupun idola tersebut berinteraksi entah lewat stories, comment, video, foto, atau apapun bentuknya, ini cuma merupakan interaksi ilusi, kelihatan nyata tapi sebenarnya nggak.

Bukan cuma idola dalam kehidupan nyata, ketika kita menyukai karakter fiktif pun juga seperti itu. Misalnya kita ngefans banget sama Harry Potter dan ngerasa dia adalah real friend kita, padahal Harry Potter is not a real person dan dengan gitu dia juga nggak tahu kita ada apa nggak.

 

SUPAYA NGGAK TERJEBAK LEBIH JAUH DALAM HUBUNGAN ‘SEMU’

Terlepas dari uniknya perasaan yang kita rasakan ke orang yang kita idolakan, walaupun dari sisi psikologi itu wajar tapi supaya nggak terjebak halusinasi mendalam, sebaiknya kita perhatiin hal-hal berikut:

Sadar kalau mereka hanyalah sosok yang kita idolakan. Sedetail apapun kita tau pasti tentang sosok yang kita idolakan (real or karakter fiktif), parasocial relationship yang kita rasakan tetap bukannya hubungan yang nyata (REAL). Karena hubungan yang nyata akan menhasilkan hubungan pertemanan yang sesungguhnya, interaksi dua arah secara langsung, bukan hanya sekedar komen (satu arah) apalagi dari media digital.

Perbanyak pertemanan di dunia nyata. Menurut penelitian yang ditulis pakar psikologi, Cynthia Hoffner, salah satu karakteristik orang yang paing gampang terkena efek mendalam dari parasocial relationship ini adalah orang-orang yang  kurang bersosialisasi di dunia nyata, sehingga waktunya habis untuk menyaksikan orang-orang di dunia maya. Sedih nggak sih kalau kenyataannya kita sesibuk itu mencari teman di dunia maya sedangkan nggak satupun dekat dengan real friends?

Tahu batasan penggemar.  Sesuka-sukanya kita sama sosok yang kita idolakan, perlu banget kasih batasan seberapa jauh kita bisa nge-fans sama mereka. Jangan sampe kita terlalu “mendewakan” sehingga nggak bisa ngebedain antara perilaku negatif  dan positif. Misalnya idola yang kita suka pake drugs, kita jadi ikutan pengen nyobain. Atau terlalu sukanya kita sama idola kita jadi obsesif dan rela ngelakuin apa aja demi si idola. Kalo kita mulai merasa seperti ini, si idola membawa bad influence, mungkin udah saatnya kita take a break dan mulai mencari sosok lain yang lebih positif untuk dijadikan idola.


Foto: Shutterstock, Getty Image, dan berbagai sumber 

Related Articles

Cara mengatasi writer block

Ketemu sama keadaan dimana kita bingung mau nulis apa atau mau bikin apa padahal keadaannya kita lagi dikejar deadline! Ini dia cara mengatasi writer block

Cara LDR Agar TIdak Bosan

LDR juga tetep bias nyenengin kok! Simak tipsnya.

PROJECT BARENG SAUDARA

Apa aja plus minus bikin project bareng saudara?

Share Article To

Leave a Comment
0 comments
You must be logged in to post a comment.