Login

or


Email
Password

Mylife

SOCIAL BUTTERFLY DAN SOCIAL CLIMBER, KENALI BEDANYA!

Mereka sama-sama ‘beredar’ di lingkungan sosial, tapi orang-orang tipe social butterfly dan social climber punya tujuan dan cara pendekatan yang berbeda. Bisa jadi salah satunya ada di sekitar kita!

Social butterfly dan social climber, pasti kita sering dengar kedua istilah ini di dalam lingkar pertemanan. Keduanya merupakan sebutan buat sikap seseorang dalam cara melakukan pendekatan sosial dan ngebentuk pertemanan.

Nggak bisa dipungkiri, bergaul jadi salah satu kebutuhan kita, buat ngebangun keterampilan sosial dalam berinteraksi dengan orang lain. Tapi tiap orang cara pendekatannya berbeda, ada yang positif dan ada juga yang negatif. Nah social butterfly dan social climber punya ciri-ciri tersendiri yang bisa dilihat dari behavior (tingkah laku, tindakan) mereka ngejalin pertemanan. Apa sih yang ngebedain keduanya?

 

APA ITU SOCIAL BUTTERFLY AND SOCIAL CLIMBER?

Social butterfly pake kupu-kupu sebagai analoginya karena kebiasaannya yang mirip, hinggap dari satu bunga ke bunga yang lain dan nggak jarang ngasih manfaat ke bunga yang dihinggapinnya. Social butterfly punya kepribadian mudah bergaul dengan siapapun atau grup manapun tanpa harus ngerasa pertemannya tersebut ekslusif. Berteman dengan si social butterfly seru dan menyenangkan, makanya nggak heran di manapun ada aja yang kenal sama dia.

Sebaliknya, Social climber adalah golongan orang-orang yang cenderung memanfaatkan “pertemanannya” dengan orang lain, buat ningkatin status sosialnya. Menurut Irene S Levine Ph.D. dari Psychology Today, social climber cenderung dilakukan orang-orang yang punya self-esteem rendah dan merasa insecure atas status sosialnya, sehingga butuh pengakuan sosial untuk membuatnya kelihatan.

Si social climber ini selalu ngerasa insecure kalo ngeliat orang lain lebih baik dari dirinya, makanya hal tersebut jadi tekanan buat kepercayaan dirinya. So, mereka menggunakan orang-orang tertentu (yang dirasa punya status social setara atau lebih dari dirinya) buat lebih menaikkan statusnya lagi. Social climber super picky dengan orang-orang yang akan dijadikan teman. Karena mereka mengganggap nggak ada gunanya menginvestasikan waktu untuk berteman dengan orang-orang yang nggak lebih hebat dari mereka

 

CARI TAHU PERBEDAAN KEDUANYA

Social butterfly dan social climber bakal kelihatan asyik di permukaan. Butuh pengamatan yang cukup panjang buat tau apakah mereka benar-benar mencari pertemanan yang tulus, atau cuma sekedar mencari kesempatan lain untuk menaikkan status. Nah, ciri-ciri ini mungkin bisa membantu kita untuk mengidentifikasi apakah sekitarmu (atau bahkan yang kamu lakukan selama ini) adalah social butterfly atau social climber.

 

FRIENDSHIP APPROACH

Social butterfly gampang banget ngedapetin teman karena suka dengan terjalinnya koneksi dan teman baru. Mereka cenderung nggak peduli atau gugup (terkecuali kalo kita socially awkward ya, itu beda kasus) buat memulai percakapan dengan seseorang yang nggak mereka kenal, dan pinter banget bikin suasana jadi lebih cair dengan ngomongin apapun. Mulai dari genre musik favorit sampai ke gosip terhangat. Menurut para social butterfly, kegiatan ngobrol sama orang asing justru jadi ajang buat nambah koneksi, sekaligus ngebuka kesempatan buat ketemu orang-orang yang ternyata bacground-nya keren banget. Mudahnya mereka itu excited banget ketemu orang baru mau dari manapun kisah latar belakang orang tersebut.

Hal ini mungkin juga dimiliki sama social climber kok. Tapi bedanya, para social climber ini lebih milih-milih buat mencari ‘mangsa’ dari koneksinya. Mereka ngerasa kalau pertemanan yang dijalin harus punya hasil lebih, bukan cuma dapet koneksi pertemanan tapi juga kesempatan buat naikin status sosialnya. Kebalikan dari social butterfly yang nothing to lose dalam pertemanan, social climber justru menganggap kalau nyari teman harus yang dari golongan hebat dan terkenal demi kepentingan citranya. Makanya nggak  jarang kalau para social climber jadi lebih ‘fake’ dan ‘trying too hard’ dalam melakukan pendekatan ke orang-orang yang disasar jadi temannya, mulai dari memuji berlebihan, sampai menanyakan hal-hal private untuk kelihatan super dekat.

 

FRIENDSHIP MEET-UP

Ngeliat dari kebiasaannya, keduanya pun sama-sama punya banyak acara, tapi tentu aja tujuannya beda.

Social butterfly punya banyak agenda buat didatengin karena banyak temen yang pengen ketemu, sampai-sampai susah banget buat nentuin jadwal yang pas untuk ketemu sama mereka, saking banyaknya teman yang ingin mereka temui. Bahkan nggak jarang teman-temannya suka ‘ngambek’ karena dianggap bukan prioritas, tapi tetap setia nunggu jadwal yang pas untuk bercengkrama dengan mereka.

Nah, Social climber juga punya banyak acara, tapi tentunya acara yang didatanginya harus ada tujuan tertentu dan tentunya ngundang orang-orang yang ingin ia temui untuk jadi temen hits bareng dan dipajang di media sosial. Nggak jarang, social climber bisa dengan gampang ngebatalin janji di momen-momen last minute kalau-kalau ada kesempatan buat dateng ke acara yang lebih menguntungkan buat mereka.

 

FRIENDSHIP CONNECTION

Baik social butterfly ataupun social climber, keduanya pasti bakal terlihat punya jumlah teman yang banyak, mau itu di media sosial ataupun di dunia nyata. Tapi perbedaan yang paling kelihatan banget adalah cara mereka memperlakukan orang-orang yang jadi temannya.

Social butterfly nggak akan mikir dua kali untuk ngebantu teman-temannya, mau itu dadakan atau bisa aja dianya sendiri yang langsung inisiatif membantu. Hal ini karena adanya koneksi personal dari hubungan yang dibangun. Social butterfly cenderung membuka kehidupan pribadinya dan nggak ada sesuatu yang ditutup-tutupi karena emang niatnya berteman tulus. Dia tahu kapan bisa bilang “iya” dan tahu kapan bisa bilang “nggak” berdasarkan prioritasnya. Selain itu koneksi yang dia punya nggak akan ragu buat dia bagi-bagi. Misalnya si teman A lagi pusing nyari vendor untuk panggung pensi, si social butterfly akan langsung mengkontak atau memberikan teman B yang bisa bantu teman A. Social butterfly akan merasa senang kalo teman-teman dia terkoneksi satu sama lain, buatnya semakin banyak orang, akan semakin menyenangkan.

Kalau social climber beda lagi. Dari luar social climber emang keliatan punya banyak teman, mau itu di social media atau di dunia nyata. Tapi kedekatan para social climber ini bisa dibilang “fake” karena nggak terlalu dekat secara personal. Alasannya karena social climber cenderung kurang berempati dengan orang lain, sehingga susah untuk menempatkan perasaan yang tulus saat terkoneksi dengan orang. Mereka pun kebanyakan menutupi kehidupan pribadinya dan hanya menonjolkan apa yang menurut dia bisa dapat pengakuan akan status sosialnya. Cara ngeliatnya mudah kok, menurut psychology today social climber terobsesi dengan status dan pencitraan, serta selalu mengontrol orang di sekitarnya supaya sesuai dengan image yang mau dia bangun. Thus, social climber selalu dan pasti akan memamerkan apa yang dia punya via media sosial. Kalo tahapnya sudah parah, 24/7 dia akan update dan mentioned nama-nama orang terkenal/penting yang dia “kenal”. Social climber nggak ragu ninggalin atau nge-hijack teman bila dirasa orang tersebut udah nggak berguna atau ada yang lain yang lebih penting.

Contoh lainnya lagi, pernah lihat orang yang kelihatannya seru di media sosial, tapi begitu selesai ambil video atau foto buat di-upload, mereka langsung menjauh, sibuk sendiri dan nggak ada obrolan lanjutan setelahnya, bisa jadi dia adalah social climber. Image is everything for social climber. So, keep in mind kalau pertemanan di media sosial bukanlah cerminan dari pertemanan yang sesungguhnya.

 

FRIENDSHIP GOALS

Karena dari niatnya aja udah beda, tujuan pertemanan dari social butterfly dan social climber juga pastinya beda. Social butterfly menganggap pertemanan itu adalah cara buat mereka membangun relasi, memperluas koneksi dan hubungan antar personal. Mau itu punya kesamaan minat atau nggak, social butterfly nggak mempedulikan hal tersebut karena dia tulus berteman dengan siapa aja. Nggak ada sisi oportunis ataupun sisi ekslusif, kepuasan diri social butterfly adalah ketika semua grup pertemanan dia menyatu. Menurut Huffpost, social butterfly nggak terbatas apakah kita ekstrovert atau introvert, karena social butterfly lebih bagaimana kemampuan individual bersosialisasi secara inside and outside. Makanya mau topiknya ringan atau dalam, social butterfly selalu bisa menyambung obrolan dari siapapun itu.

Sedangkan social climber berteman murni karena menginginkan kenaikan atas status tertentu, dengan memanfaatkan “pertemanannya” dengan orang lain. Para Social Climber biasanya berusaha banget membentuk citra dirinya menjadi orang yang disukai banyak orang untuk diakui keberadaannya. Menurut psychology today, walaupun terlihat atraktif di luar tapi social climber nggak pede dan ini keliatan dari cara dia berbicara. Mereka akan memanfaatkan eksistensi orang lain buat ningkatin rasa percaya dirinya, dan nggak akan ragu untuk bohong.

Nah udah jelas kan perbedaan social butterfly dan social climber. Pertemanan ketika di usia kita emang jadi hal yang penting, bahkan lebih penting dari lingkup keluarga. Tapi bukan berarti kita harus buta dengan yang namanya teman. Karena teman yang tulus pasti umurnya akan bertahan lama daripada teman yang "fake".


Foto: Shutterstock

Related Articles

Cara mengatasi writer block

Ketemu sama keadaan dimana kita bingung mau nulis apa atau mau bikin apa padahal keadaannya kita lagi dikejar deadline! Ini dia cara mengatasi writer block

Cara LDR Agar TIdak Bosan

LDR juga tetep bias nyenengin kok! Simak tipsnya.

PROJECT BARENG SAUDARA

Apa aja plus minus bikin project bareng saudara?

Share Article To

Leave a Comment
0 comments
You must be logged in to post a comment.