Login

or


Email
Password

Mylife

STEREOTIP CEWEK YANG MASIH MELEKAT DI MASYARAKAT

“Udah nggak usah sekolah tinggi-tinggi, nanti juga ujung-ujungnya kerja di dapur sama ngurus rumah dan anak”

Pernah nggak sih  mendengar berbagai anggapan dan penilaian yang udah lama banget tertanam di masyarakat, tapi sebenarnya nggak tepat-tepat amat? Apalagi kalau udah berbicara soal cewek, rasanya banyak banget anggapan atau stereotip yang diarahkan pada para cewek yang sedikit banyak justru bikin kita jadi tersudut, bahkan sampai jadi menghalangi kita sebagai cewek untuk mengejar mimpi dan passion kita.

Padahal nggak bisa dipungkiri, di luar tampilan fisik dan kodrat yang kita punya, potensi cewek juga seharusnya bisa diperhitungkan untuk bisa setara dengan para cowok. Kebayang kan betapa terbantunya para cowok apabila kita juga punya porsi hak yang sama, serta saling membantu atas kewajiban yang bisa diemban sesuai kebisaan masing-masing. Karena pada dasarnya, kita adalah manusia yang diciptakan Tuhan dengan karakter yang unik dan kemampuan yang berbeda-beda lho! Jadi, rasanya kurang adil kalau cewek mendapat penilaian-penilaian berikut yang sebenernya keliru untuk terus ada di masyarakat.

 

CEWEK NGGAK PERLU BERPENDIDIKAN TINGGI

Anggapan kalau cewek nggak perlu berpendidikan tinggi ini mungkin jadi salah satu stereotip paling umum yang pernah kita dengar. Padahal, berpuluh-puluh tahun lalu R.A Kartini susah payah memperjuangkan agar perempuan bisa punya hak yang setara dalam mendapat pendidikan. Dan kalimat “ujung-ujungnya akan jadi ibu rumah tangga” atau “nanti nggak laku” harusnya nggak menghalangi seorang cewek untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi.

First thing first, cewek bukanlah barang jualan yang harus disebut dengan istilah ‘laku’. Kedua, selalu anggaplah kalau pendidikan adalah investasi yang bisa dimiliki siapa saja. Bayangin jika seorang cewek kelak akan menjadi ibu rumah tangga, ia akan menghabiskan sebagian besar waktunya bersama sang anaknya. Ibu yang teredukasi dengan baik pastinya juga akan mementingkan pendidikan anak agar bisa jadi sosok yang cerdas. Jadi apapun background dan tujuannya, pendidikan yang tinggi nggak hanya milik sebagian kaum, tapi semua orang punya hak yang sama untuk bisa pintar dan cerdas.

 

CEWEK HARUS BISA MEMASAK DAN PEKERJAAN RUMAH

Kekeliruan dari stereotipe yang kedua adalah menempatkan cewek wajib banget untuk bisa masak, dan harus pinter melakukan pekerjaan rumah seperti menjahit, mengepel, beres-beres rumah dan sebagainya. Nggak jarang, anggapan ini kadang bikin banyak cewek yang ngerasa insecure saat nggak punya keahlian ini. Seakan-akan, ia terlahir gagal karena nggak punya kemampuan apa-apa di dapur dan rumah tangga. Padahal bisa ataupun nggak bisa masak, sebenernya nggak akan mengurangi value kita sebagai cewek. Kita tetep cewek kok!

Keep in mind kalau memasak, menjahit, dan sebagainya itu sama seperti kegiatan lain yang membutuhkan bakat, passion, dan ketekunan untuk bisa mahir melakukannya. Tentunya kalaupun kita nggak bisa karena nggak mahir dan nggak suka, ya nggak akan mengubah kita menjadi kurang cewek. Kalaupun nanti dapat pasangan yang lebih mahir di bidang itu, bertukar peran pun sebenarnya nggak harus jadi masalah.

 

CEWEK NGGAK BISA PINTAR MENYETIR DAN BACA PETA

Pernah nggak mendengar (atau bahkan nggak sengaja mengucapkan) kalimat “pasti yang nyetir cewek nih” saat melihat pengemudi kendaraan yang kurang lihai di jalan? Atau ragu nanya jalan ke cewek karena pasti nggak tahu. Well, kalau iya berarti kamu udah kemakan stereotip itu sendiri.

Padahal menyetir, atau kegiatan apapun nggak ada hubungannya dengan gender, melainkan keahlian dari seseorang yang udah terbiasa dan suka melakukan hal tersebut. Banyak kok contoh konkrit kalau banyak perempuan yang bisa menyetir dengan baik dan tertib pada peraturan. Sayangnya, stereotip cara nyetir yang jelek masih suka nempel dan nggak jarang dijadikan bahan lucu-lucuan dan kekesalan tiap kali ketemu di jalan.

 

CEWEK NGGAK BISA JADI PEMIMPIN

Anggapan ini sebenarnya lahir dari penilaian kalau perempuan pasti selalu akan melibatkan emosi dalam mengambil keputusan, nggak tegaan, dan sulit banget untuk objektif. Sedangkan dalam memimpin, dibutuhkan sosok yang bisa berpikir secara logis dan terstruktur.

Padahal, nggak semua gaya kepemimpinan harus dipukul rata layaknya sosok dingin. Pemimpin yang baik justru nggak hanya dilihat dari ketegasannya, tapi juga banyak aspek yang justru sering dimiliki perempuan. Misalnya rasa simpatik yang tinggi, detail terhadap suatu masalah, dan penuh pertimbangan. Buktinya, udah banyak lho pemimpin perempuan, baik di bidang usaha sampai ke pemerintahan, yang justru tertangani dengan baik dan sukses.

 

CEWEK HARUS BERKELUARGA

Seringnya sindiran dan bercandaan soal ‘ngejomblo’ tiap kali terliat obrolan mungkin jadi satu faktor kenapa stereotip cewek harus berkeluarga (or at least punya pasangan) jadi momok hingga sekarang. Rasanya kalau nggak punya pendamping, cewek tuh langsung dianggap nggak lengkap dan belum jadi cewek seutuhnya. Belum lagi setelah menikah, nggak akan berhenti dibombardir dengan pertanyaan soal anak, persalinan, dan banyak hal lain yang kadang melahirkan ceramah dan celotehan panjang lebar saat jawaban kita nggak sesuai harapan.

Chill girls, menikah dan memiliki anak adalah hak dari setiap cewek, dan karena itu kita juga berhak memilih untuk melakukannya atau nggak. Memiliki pasangan mungkin menyenangkan, tapi baiknya kita belajar dulu untuk mencintai diri sendiri, supaya nantinya nggak ada perasaan ketergantungan pada orang lain untuk membuat diri bahagia. Karena gara-gara stereotipe ini, nggak sedikit cewek yang akhirnya tercebur dan bertahan di hubungan yang nggak sehat, abusive, hanya karena ingin lingkungan melihatnya memenuhi syarat dari stereotip tersebut. Padahal menikah dan membangun suatu keluarga itu nggak selamanya indah, ada segala tanggung jawab yang harus dipikul dan dijalani bareng-bareng dengan pasangan kita. Kalau kita ngerasa belum siap untuk melakukannya atau bahkan belum dapet-dapet saat udah mengharapkannya, ya nggak perlu terburu-buru. Nggak usah pikirin apa kata orang di sekitar kita, karena biar gimana yang menjalani kehidupan tersebut adalah kita, bukan mereka.

Lagipula jodoh dan anak itu sama seperti rezeki, kita bisa mengusahakannya tapi Tuhan pasti memberikannya di saat yang benar-benar tepat!


Foto: Shutterstock

Related Articles

Cara mengatasi writer block

Ketemu sama keadaan dimana kita bingung mau nulis apa atau mau bikin apa padahal keadaannya kita lagi dikejar deadline! Ini dia cara mengatasi writer block

Cara LDR Agar TIdak Bosan

LDR juga tetep bias nyenengin kok! Simak tipsnya.

PROJECT BARENG SAUDARA

Apa aja plus minus bikin project bareng saudara?

Share Article To

Leave a Comment
0 comments
You must be logged in to post a comment.