Login

or


Email
Password

Mylife

TOXIC FAMILY: PASRAH ATAU HADAPI?

Kita suka nggak sadar kalau karakter toxic family bisa membuat pribadi kita ikutan “tercemar”.

Kita mungkin sering denger kalimat “blood is thicker than water” yang diartikan kalau keluarga adalah segalanya dalam segala hal, dan akan selalu jadi yang paling utama. Tapi, nggak sedikit dari kita yang justru merasa keluarga adalah lingkungan pingin banget kita jauhi saking toxic-nya.

Ya, fenomena toxic family bukan hal yang baru dan beberapa dari kita mungkin mengalaminya. Istilah ini menggambarkan bagaimana perlakuan keluarga baik itu orang tua atau saudara yang justru lebih sering menyakiti, mengganggu, membuat nggak nyaman, apalagi sampai bisa merusak sisi psikologis kita sebagai anak ataupun sebagai seseorang, baik secara sadar ataupun nggak sadar.

 

Mengapa ada toxic family dan dianggap wajar?

 

Bukan rahasia kalau orang tua selalu ingin anaknya menjadi kebanggaan dan bahagia. Di satu sisi, orang tua merasa cara didik yang diterapkan ini adalah untuk kebaikan dari si anak ke depannya. Merasa kalau cara didik yang mereka pakai adalah cara terbaik untuk membentuk karakter seorang anak. Biasanya, cara yang dipakai orang tua dalam mendidik anak nggak akan jauh berbeda dengan latar belakang didikan yang mereka dapat, karena didikan yang mereka dapat dulu pun berhasil mencetak diri mereka seperti sekarang. They are totally fine with that.

 

Berpotensi menjadi sosok yang “toxic” juga

Menurut sebuah jurnal Family Medicine and Disease Prevention, Cost of Growing up in Dysfunctional Family bilang anak-anak yang tumbuh dalam keluarga disfungsional akan merasakan berbagai efek negatif, karena mereka nggak punya kendali atas lingkungan mereka yang toxic. Sehingga ketika dia tumbuh dewasa mereka cenderung berperilaku negatif, punya kepercayaan diri yang rendah, dan lain sebagainya sebagai bentuk pelarian dari trauma masa kecilnya.

Sifat toxic ini pun jadi turun temurun dari generasi ke generasi. Misalnya aja, kebiasaan orang tua yang terus-terusan mengkritik, mulai dari bentuk badan, dibanding-bandingin sama saudara yang keliatannya lebih unggul, mengekang, selalu diatur dan nggak memberi hak buat memilih, nggak boleh mencampuri urusan keluarga hanya karena kita ada di posisi anak, sampai ada juga yang nggak memberi support terhadap mimpi dan cita-cita sang anak. Di mata orang tua, ini adalah cara terbaik, demi kebaikan sang anak. Padahal, secara nggak sadar memupuk budaya bully di keluarga sendiri, menyakiti secara mental, dan menghambat anak untuk jadi mandiri dengan pilihan mereka sendiri.

Bukan cuma hal-hal yang kelihatannya ‘keras’ aja, pola asuh yang cenderung memanjakan, selalu mengikuti kemauan anak, bahkan berambisi dan terlalu membanggakan si anak dibanding orang lain juga sama buruknya. Anak diarahkan untuk selalu mendapatkan apa yang dimau, dengan cara apapun. Ingat cerita film Willy Wonka, di mana 4 anak yang dimanja dan dididik dengan super ambisius oleh orang tuanya justru mendapat akibat yang buruk?

 

Berikut tanda-tanda kita sedang berada di dalam toxic family

  1. Kita ngerasa down dan sedih ketika berada di dalam keluarga. Contohnya aja ketika Mama atau Papa minta tolong sesuatu sementara kamu lagi nggak bisa, mereka akan marah-marah dan menganggap kamu adalah anak yang nggak tahu terima kasih. Bottom line, kita selalu merasa jelek, bersalah, memalukan, dan lain sebagainya tentang diri kita sendiri.
  2. Melihat mereka bukan senang tapi selalu ada rasa marah dan nggak mau melihat ataupun bersama mereka.
  3. Jadi merasa kalo kita berkewajiban untuk menjaga dan merawat mereka. Did you know, pada dasarnya semua mahluk hidup bisa menjaga dirinya sendiri setiap waktu. Jika salah satu anggota keluargamu selalu menuntut ingin dijaga dan dirawat (padahal mereka mampu), then they are toxic to your health.
  4. Kita selalu merasa “mati rasa”, capek, dan males ngapa-ngapain kalo ada di dekat mereka.
  5. Dan kita juga merasa mereka terlalu mengontrol hidup kita tanpa mau mendengar apa keinginan kita.

 

Lalu bagaimana menghadapi toxic family? Apakah kita harus pasrah aja atau mengatasinya?

Kondisi toxic family mungkin banget berimbas ke karakter kita saat dewasa nanti, menularkan sisi-sisi negatif yang pernah kita dapatkan dulu. Antara merasa kalau toxic family merupakan tindakan yang wajar aja, atau ajang ‘balas dendam’ yang tertanam secara nggak sadar di benak kita.

Kalau kamu selalu merasa takut, tertekan, sampai malas untuk berinteraksi dan basa basi dengan keluarga sendiri, mungkin kamu salah satu orang yang sedang merasakan pahitnya berada di lingkungan toxic family. Tapi bukan berarti kedaan ‘mencekik’ ini nggak bisa kamu tanggulangi lho! Karena ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk berhenti terus-terusan teracuni dengan omongan keluarga, tanpa harus terus-terusan menyalahkan keadaan.

 

Belajar untuk mandiri

Nggak nyaman dengan sikap keluarga yang selalu meng-underestimate setiap cita-cita dan mimpimu? Jangan langsung down, kesel, dan merasa kalau usahamu sia-sia. justru ini saatnya kamu membuktikannya pada keluarga. Karena pada dasarnya, orang tua cenderung menganggap pilihan anaknya nggak akan pernah sebaik pilihan mereka sebagai orang tua, mereka takut kita gagal, dan balik lagi, orang tua mana yang mau liat anaknya gagal?

Butuh tekad kuat untuk membuktikan kita bisa, berusaha sendiri untuk mewujudkan cita-cita, jadi mandiri baik secara mental dan finansial, hingga akhirnya orang tua percaya kalau apa yang mereka khawatirkan – yang kadang jadi meremehkan- justru jadi sesuatu yang bisa mereka banggakan.

 

Tunjukkan kalau kamu pribadi yang tegas

Selain kemandirian, ketegasan dan pola pikir kritis juga bisa jadi dasar kita untuk pelan-pelan terhindar dari toxic family. Ketegasan ini mungkin sedikit banyak akan membawa kita ke perdebatan yang bisa bikin mereka kaget akan sikap kita. Tapi, sikap tegas dan berani yang kamu tunjukkan dengan maksud menjelaskan posisi kita sebagai sosok yang punya pemikiran sendiri akan membuat orang tua dan keluarga lain menaruh respect pada kita.

 

Jangan pernah membenci keluargamu

Se-toxic-toxic nya keluarga, nggak ada gunanya membenci dan terus-terusan menyalahkan mereka. Mereka akan tetap jadi keluarga kita, dan akan selalu jadi tempat kita untuk ‘pulang’. Put yourself in their shoes, kita nggak pernah tau apa yang melatar belakangi sifat toxic yang ada di diri keluarga kita, baik itu pola didik terdahulu, masalah internal, sehingga kita ikut terkena imbasnya. Mungkin kita nggak bisa memaklumi hal ini, tapi yang bisa kita lakukan adalah mengubah pola pikir kita sendiri supaya nggak meng-copy cara yang menurut kita salah. Toh kitapun udah pernah merasakan bagaimana nggak enaknya berada di sekitar toxic family, dan ini akan menjadi pegangan kita saat membangun keluarga nanti.

 

Menjauh bila memang sangat diperlukan

Saat keadaan udah makin parah, dan kita udah nggak bisa menahan rasa ‘sakit’ akibat perlakukan toxic ini, nggak ada salahnya untuk memikirkan dan mengambil langkah untuk menjauh sejenak dari keluarga. Tapi jangan gegabah, karena meninggalkan keluarga juga butuh pertimbangan yang benar-benar matang, bukan cuma karena emosi semata. Pikirkan baik-baik, bangun obrolan dengan anggota keluarga lain atau bantuan dari tim profesional yang menurutmu bisa memberi solusi terbaik atas masalah yang kamu hadapi ini. Tapi jika berpisah adalah jalan yang terbaik, maka mungkin adalah jalannya. Terkadang untuk meraih kebahagiaan sendiri kita harus (mau nggak mau) menempuh jalan yang paling berat.

Anyway, Alexander Thian (@amrazing) beberapa waktu lalu pernah share topik yang berhubungan tentang keluarga (anak dan orang tua) di #dearparents yang ditaruh di highlight storiesnya. Kalo kamu mengalami hal dengan ciri-ciri toxic family yang Happifyourworld sebutkan, mungkin kamu bisa melihat storiesnya, dan bisa menjadi bahan pertimbangan apakah yang harus kita lakukan ketika menghadapi situasi seperti ini. Ingat, yang terpenting adalah kebahagiaan kita sendiri :)


Foto: Shutterstock

Related Articles

Cara mengatasi writer block

Ketemu sama keadaan dimana kita bingung mau nulis apa atau mau bikin apa padahal keadaannya kita lagi dikejar deadline! Ini dia cara mengatasi writer block

Cara LDR Agar TIdak Bosan

LDR juga tetep bias nyenengin kok! Simak tipsnya.

PROJECT BARENG SAUDARA

Apa aja plus minus bikin project bareng saudara?

Share Article To

Leave a Comment
0 comments
You must be logged in to post a comment.