Login

or


Email
Password

Whatsnow

FAKTA & POLEMIK DEFORESTASI

Kasus deforestasi hutan akhir-akhir ini kembali kencang diberitakan. Nggak cuma di Indonesia, masalah ini juga sebenarnya dialami oleh negara-negara lain yang memiliki hutan luas, dan masih jadi isu penting untuk dicari solusinya. Apa sih dampak deforestasi terhadap hutan?

 

Kalau lagi musim kemarau kayak gini, temen-temen di sejumlah daerah Kalimantan sering terpaksa menghirup kabut asap. Soalnya banyak hutan yang terbakar, baik karena musim panas ekstrim atau malah sengaja dibakar oleh oknum-oknum tertentu. Bahkan pemerintah kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, juga memperpanjang status siaga kebakaran hutan dan lahan sampe akhir September ini. Menurut Plt Kepala BPBD Kota Palangka Raya, Supriyanto, kebakaran lahan ini disebabkan karena nggak turun hujan lebih dari tiga minggu sehingga lahan yang didominasi gambut jadi kering dan gampang terbakar.

Begitu juga sama BMKG, yang tanggal 8 September 2019 kemarin menyebut masih ada ratusan “hotspot” atau titik api kategori sedang dan tinggi di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera. Bahkan sejumlah sekolah di Jambi dan Riau, terpaksa diliburin karena asap yang terlalu pekat. Jadi apa sih yang bikin semua ini sering terjadi hampir di setiap musim kemarau? Selain memang hutan dan lahan yang kering, sejumlah pihak juga bilang peristiwa ini akibat upaya deforestasi.

 

DEFORESTASI NGGAK CUMA KEBAKARAN

Menurut jurnalbumi.com, deforestasi adalah proses penghilangan hutan alam dengan cara penebangan untuk diambil kayunya atau mengubah peruntukan lahan hutan menjadi non-hutan. Deforestasi juga bisa disebabkan oleh kebakaran hutan, baik yang disengaja atau terjadi secara alami.

Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), deforestasi diartikan sebagai penebangan hutan. Selain itu, Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia mengartikan deforestasi sebagai perubahan secara permanen, dari area berhutan menjadi tidak berhutan yang diakibatkan kegiatan manusia.

Dari definisi-definisi diatas, artinya deforestasi bukan melulu soal kebakaran hutan aja, tapi kegiatan lain yang sengaja dilakukan manusia seperti menebang, untuk mengubah fungsi hutan dan lahan tertentu menjadi fungsi lain seperti pertanian, perternakan atau pemukiman.

Fenomena deforestasi sebenarnya mengancam kehidupan umat manusia dan spesies makhluk lainnya. Percaya atau nggak, faktanya sumbangan terbesar dari perubahan iklim yang terjadi saat ini, diakibatkan oleh deforestasi.

 

DEFORESTASI DI INDONESIA

Sebagai negara dengan jumlah hutan yang cukup banyak dan luas, negara kita juga nggak lepas dari isu deforestasi. Bulan Juli lalu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ibu Siti Nurbaya mengklaim, deforestasi di Indonesia terus menurun. Dari data Sistem Pemantauan Hutan Nasional (SIMONTANA)  yang dirilis awal tahun 2019 menyebutkan bahwa, deforestasi pada tahun 2014-2015 seluas 1,09 juta hektar, dan turun menjadi 0,44 juta hektar selama tahun 2017-2018. Tapi menurut Organisation for Economic and Cooperation Development (OECD), Indonesia masih ada dalam daftar negara dengan deforestasi tertinggi kedua setelah Brazil. OECD juga menilai, kalau deforestasi ini jadi penyumbang separuh dari total emisi gas rumah kaca, karena pegeringan dan pembakaran lahan gambut yang kaya karbon.

Melansir dari Tirto.id, Greenpeace Indonesia menyebut sampai tahun 2018 lalu deforestasi mengakibatkan lebih dari 130 ribu hektar kawasan hutan di Indonesia hancur sejak tahun 2015. Mayoritas kerusakan disebabkan oleh industri perkebunan Kelapa Sawit dan Bubur Kertas. Seperti yang diungkapkan oleh Organisasi kampanye global perlindungan lingkungan, Mighty Earth, mereka merilis hasil temuan investigasi selama dua tahun terakhir tentang deforestasi yang diduga dilakukan oleh perusahaan perkayuan dan kelapa sawit Korea-Indonesia, Korindo, di Papua. Korindo dinilai telah melanggar hak-hak pribumi, dengan melakukan pemanfaatan hutan dan merusak daerah-daerah penting Konservasi Bernilai Tinggu atau High Conservation Value. Hasil temuan ini sudah diserahkan ke Forest Stewardship Council (FSC), Dewan Sertifikasi Global, untuk pengelolaan hutan.

Eratnya anggapan Industri Kelapa Sawit penyebab deforestasi juga bikin Uni Eropa melarang minyak sawit jadi bahan baku biodesel di negara mereka. Namun hal ini tentu menyulitkan Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, dan akan sangat berpengaruh sama perekonomian negara kita. Agak dilema juga sih sebenarnya, soalnya selama ini minyak sawit menyumbang 12% total ekspor non-migas Indonesia. Jadi kalau hal ini terpangkas, defisit negara kita bakal semakin tinggi.

Tapi di sisi lain, studi yang dilakukan International Union for Conservation of Nature menunjukkan kalau perkebunan kelapa sawit hanya menyumbang 1% dari deforestasi di dunia. Jadi lahan yang dipakai untuk perkebunan sawit di dunia nggak sampai 1% dari total hutan di seluruh dunia. Melansir dari web kbr.id, selain industri kelapa sawit, sejumlah industri yang menyumbang deforestasi tahun 2011-2016 di Indonesia adalah konversi hutan menjadi semak belukar, pertanian skala kecil, industri penebangan kayu, perkebunan skala kecil dan besar, jalur pengangkutan kayu, pertambangan, dan juga tambak ikan.

 

DEFORESTASI DI BELAHAN DUNIA LAIN

Beberapa waktu lalu hutan Amazon juga sedang mengalami kebakaran hebat! Memang sebenarnya setiap tahun, hutan di Amazon mengalami kebakaran apalagi saat musim kemarau. Namun tahun ini, jumlah kebakaran meningkat khususnya hutan Amazon di Brazil. Institute Nasional untuk Penelitian Angkasa Luar atau National Institute for Space Research (INPE), ada lebih dari 75.000 kebakaran hutan tercatat di Brazil selama delapan bulan pertama tahun ini, naik sebanyak 85 persen dari tahun lalu. Angka ini jadi angka tertinggi sejak tahun 2013 lho! Selain karena musim kemarau, kebakaran itu diduga karena deforestasi lantaran presiden Brazil, Jair Bolosonaro, dinilai mendorong aksi penebangan hutan untuk membuka lahan pertanian, perkebunan, dan perternakan baru.

Selain membuat banyak kota di Brazil yang tertutup asap, kondisi ini juga membahayakan ekosistem dan mengancam kehidupan hewan-hewan di hutan Amazon. Peneliti di National Institute of Amanozian, William Magnusson, menyebut nggak ada hewan yang bisa beradaptasi dengan kebakaran. Padahal Hutan Hujan Amazon berisi jutaan spesies serangga, tanaman, burung, serta satwa liar utama termasuk Jaguar, Manatee, Rusa Merah, Capybara, berbagai jenis monyet, dan lain sebagainya. Jadi kalau mereka nggak sembunyi dengan menggali atau masuk ke air, mereka bisa binasa. Yes, this fact is really bad!

 

DEFORESTASI MASIH JADI SOROTAN DUNIA

Kondisi hutan yang makin parah ini ternyata bukan cuma jadi isu selewat aja, tapi jadi sorotan miliaran mata di dunia, termasuk aktor Leonardo DiCaprio dan Changmin, salah satu personil TVXQ. Leonardo DiCaprio sendiri sampai memosting foto kebakaran hutan di Amazon, dengan permintaan dukungan terhadap Earth Alliance, organisasi milik DiCaprio yang didirikan bersama Laurene Powell Jobs dan Bian Sheth. Hasilnya Ia menyumbang dana sebesar lima juta dollar Amerika, untuk diberikan kepada organisasi setempat dan masyarakat asli yang membantu melindungi hutan Amazon. Sedangkan Changmin menyumbang 58.000 dolar Amerika, untuk membantu upaya restorasi hutan Amazon yang mengalami kebakaran.

Selain menyedot perhatian global, kebakaran hutan Amazon di wilayah Brazil juga membuat sejumlah brand H&M dan VF Corporation (yang menaungi brand Vans, Timberland, Nautica, JanSport  dan masih banyak lagi), mengambil tindakan tegas dan memutuskan untuk nggak lagi membeli kulit dari Brazil, untuk bahan baku produk-produknya.

Pihak H&M menyebut, langkah menyetop pemakaian kulit dari Brazil ini akan dilakukan sampai ada jaminan yang bisa memverifikasi jika bahan baku kulit dari Brazil nggak berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan di Amazon. Soalnya, salah satu pendapatan terbesar Brazil memang berasal dari ekspor kulit sapi mencapai hampir 1,5 miliar dollar Amerika pada tahun 2018. Memang belum ada penelitian pasti seberapa besar sih pengaruh industri kulit dengan deforestasi Amazon, namun banyak peneliti meyakini industri tersebut berkontribusi. Soalnya Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB di tahun 2016 lalu menyebut, 60 persen deforestasi di Brazil terkait dengan perternakan.

Mau ikut berkontribusi melawan deforestasi di negara kita? Bisa banget kok! Kita bisa melakukan aksi dukungan dengan menyumbang ke lembaga-lembaga yang concern soal hutan, misalnya Greenpeace, Save Our Borneo (SOB), The Nature Concervacy (TNC) yang punya program menanam dan pemeliharaan pohon untuk menambah jumlahnya dan tentunya pelestarian lingkungan.

 

JADI APA YANG SEBAIKNYA KITA LAKUKAN UNTUK BANTU MENGHENTIKAN DEFORESTASI?

Atau setidaknya meminimalisir akibat dan efek deforestasi. Karena sadar nggak sadar, kita sebagai manusia butuh pohon, hutan, hewan dan alam untuk hidup. Jadi udah saatnya kita jaga. Ada 3 cara yang bisa kita lakukan.

Restore damaged ecosystem dengan menanam pohon dan berbagai tanaman di area yang terjadi deforestasi (atau bisa juga di area lingkungan kamu)

Berikan dukungan kita dengan menyumbang fiisik, uang, ataupun awareness dari lembaga-lembaga yang concern soal hutan. Misalnya Greenpeace, Save Our Borneo (SOB), The Nature Concervacy (TNC) yang punya program menanam dan pemeliharaan pohon untuk menambah jumlahnya dan tentunya pelestarian lingkungan. Atau kalo kamu seorang fans artist bisa juga membuat kampanye penanaman pohon. Seperti yang dilakukan oleh fans BTS (ARMY) dari Filipina di mana mereka menanam 600 pohon di Sierra Madre, pegunungan terpanjang di Filipina untuk merayakan ultah RM atau #SaveTheForestWithJin yang diprakarsai oleh fans Indonesia. Dengan gini kamu nggak cuma me-restore tapi juga men-establish alam.

Edukasi orang-orang terdekat

Sadari mereka akan pentingnya lingkungan hidup dan beritahu mereka gimana caranya kita bisa bantu untuk menyelamatkan hutan dan alam serta mahluk yang hidup di dalamnya. Jangan pernah lelah untuk mengedukasi mereka karena kalo bukan kita ya siapa lagi yang akan menyelamatkan bumi ini?

Envourage orang-orang untuk mengubah lifestyle mereka menjadi lebih eco-friendly

Dan juga hidup dengan cara yang tidak melukai lingkungan. Se-simple mengurangi sampah dengan membawa tumbler minuman sendiri atau tempat makan sendiri ketika bepergian. Saat ini udah banyak kok online shop yang menjual berbagai macam alat yang dibutuhkan supaya kita bisa menjaga alam. Misalnya @whatplastics, selain menjual tumbler dan alat makan lainnya juga mengencourage untuk menjaga lingkungan. 


Foto: Shutterstock

Related Articles

NGOPI DULU, LALU... SELFIE !

Ngopi cantik demi dapet stock foto yang instagramable banget.

CLICK & DOWNLOAD

Ini beberapa celebrity apps yang worth it untuk kita download bareng-bareng.

NO BAKE CAKE RECIPE

Who doesn’t love cake? But to bake them is another story.

NEW IT COUPLES ALERT

Ada banyak young power couples baru yang seru untuk kita kepoin bareng. Selain Taylor & Calvin, ada siapa lagi ya?

Share Article To

Leave a Comment
0 comments
You must be logged in to post a comment.