Login

or


Email
Password

Whatsnow

CANCEL CULTURE: ‘HUKUMAN’ BARU BUAT PARA SELEB?

Dengan adanya cancel culture ini, apa iya kata maaf dan kesempatan buat berubah pun jadi terasa percuma untuk dilakukan? Dan seberapa efektif sih ‘budaya’ ini mengubah keadaan di dunia maya?

 

WHAT IS ‘CANCEL CULTURE’?

Sejak era internet dan media sosial semakin masif, makin banyak orang-orang yang mudah menyebarkan ‘kampanye’ untuk membuat orang-orang tergerak melakukan suatu hal. Biasanya karena merasa relate akan suatu kasus, empati, sampai butuh partisipasi hanya sekedar ikutan tren. Nah salah satu tren ‘campaign’ yang beredar di media sosial saat ini adalah cancel culture atau call-out culture.

Belum banyak referensi resmi atas cancel culture ini, tapi mengutip dari artikel medium.com dan juga wikipedia, Cancel culture adalah gerakan dalam membuat keputusan untuk nggak lagi memberi support kepada seseorang baik secara finansial, moral, atau dukungan dalam bentuk digital apapun karena seseorang tersebut melakukan kesalahan fatal, misalnya melakukan kejahatan seksual, melontarkan candaan yang nggak pantas, atau berlaku rasis. Cancel culture biasanya berlaku untuk sosok terkenal seperti selebriti, social media influencers, atau orang-orang yang punya pengaruh besar lewat dunia maya.

Tujuan dari gerakan ini sebenarnya untuk bikin sosok yang melakukan kesalahan jadi jera, dan harapannya biar para sosok yang terkenal dan berpengaruh bisa lebih berhati-hati dalam bersikap dan nunjukin kalo masyarakat luas ataupun fans pun punya power untuk membuatnya belajar dari kesalahan.

 

HOW ‘CANCEL CULTURE’ WORKS

Masih inget kan belum lama ini, internet diramaikan dengan berita perseteruan antara beauty guru Tati Westbrooke dengan sahabatnya yang juga seorang beauty vlogger, James Charles. Bermula dari kekesalan Tati karena James dianggap nggak konsisten sama omongannya terhadap suatu brand kecantikan yang merupakan kompetitor dari brand Halo Beauty milik Tati, postingan video di YouTube yang dibuat oleh Tati pun merembet membahas kelakuan-kelakuan negatif James yang selama ini nggak diketahui publik.

Kasus ini pun jadi viral di YouTube dan Instagram. Singkat cerita, semua fans yang simpati pun ramai-ramai mendukung Tati dan melakukan gerakan “Cancel James Charles”. Nggak lama setelah video Tati muncul, James pun bikin video reaction dan meminta maaf atas kesalah pahaman ini. Berbagai tanggapan dan opini pun berdatangan dari digital influencer lain baik yang pro, kontra, atau berusaha netral. Bahkan beauty influencer Jeffree Star yang juga merupakan sahabat dari Tati dan James pun akhirnya ikutan buka suara dan bilang kalau James punya personality yang ‘berbahaya’, walaupun secara personal keduanya nggak ada masalah apapun sebelumnya. Akibatnya, berbagai ajakan untuk cancel James Charles semakin deras. Nggak hanya kehilangan jutaan followers dan subscribers di Instagram YouTube, James juga dikecam para fans dengan cara membakar produk eye shadow hasil kolaborasi James Charles dengan Morphe.

Begitu juga dengan kasus Logan Paul yang di tahun 2017 lalu membuat vlog yang menunjukkan sosok bunuh diri di hutan Aokigahara, Jepang. Ia mempertontonkan jenazah dan menjadikannya sebagai bahan bercanda. Video tersebut sontak bikin para netizen marah dan beramai-ramai memprotes kelakuan Logan yang nggak bermoral tersebut. Hanya dalam satu malam, Logan akhirnya menghapus video tersebut, dilanjutkan dengan teguran keras dari pihak YouTube dengan menghapus list premium advertisers dari akunnya. Dengan begitu, video Logan nggak akan mendapatkan penghasilan dari iklan premium yang pastinya bernilai besar. Nggak hanya itu, netizen pun bikin hashtag #LoganPaulIsOverParty sebagai tanda kalau ini adalah akhir dari karir Logan Paul sebagai YouTuber.

Masih banyak lagi kasus dari cancel culture yang beredar di internet. Misalnya kasus Kanye West yang di’cancel’ karena mengutarakan dukungannya secara terbuka pada Presiden Amerika Donald Trump dan twitnya soal perbudakan adalah pilihan, atau Kevin Hart yang di’cancel’ abis-abisan karena mengutarakan candaan berbau homofobia pada acara stand up comedy tahun 2010 lalu. Keduanya dianggap udah menyakiti suatu pihak karena tindakan dan omongannya, sehingga bikin orang-orang yang merasa terlibat, atau simpati terhadap pihak terkait merasa perlu melakukan ‘cancel culture’ tersebut.

 

SHOULD ‘CANCEL CULTURE’ STAY AS A CULTURE?

Dalam beberapa kasus, cancel culture emang nunjukkin impact yang kuat dan membuahkan hasil. Misalnya aja twit kontroversial James Gunn tentang pedofilia dan pemerkosaan yang  berujung pada pemecatannya sebagai sutradara Guardian of the Galaxy, atau dibatalkannya serial ‘Roseanne’ karena sang pemeran utama sekaligus produser Roseanne Barr berkomentar berbau rasis yang dia post di Twitter.

Tapi walaupun kelihatannya ngasih efek yang masif dan bikin jera, pada kenyataannya ‘cancel culture’ nggak selamanya berhasil 100%. Contoh dalam kasus Logan Paul, sampai saat ini dia masih bikin konten Youtube, masih punya fans yang ngedukung dia, dan ‘ajaibnya’ semua berjalan seperti sebelumnya. Gitu juga dengan Kanye West, masih inget kan dulu orang segitu gencarnya men-cancell Kanye sampe ngebuang sepatu Yeezy tapi baru kemarin orang rela ngantri berjam-jam demi dapetin Yeezy baru. Dan terakhir, James Charles biarpun subscribernya nge-drop tercepat dalam sejarah per-Youtube-an, tetap aja bikin video Youtube lengkap dengan para fans yang masih ngedukungnya.

‘Cancel culture’ ini pun dianggap punya sisi jelek karena bikin para fans mudah terpicu untuk menerapkan hal ini tiap kali seseorang melakukan kesalahan. Sejak cancel culture jadi tren, orang-orang yang melakukan kesalahan dianggap udah nggak termaafkan, dan solusi terbaiknya adalah cancel. Permintaan maaf pun rasanya nggak cukup, dan nggak bisa terima kalau si pembuat salah tersebut lagi berusaha jadi orang yang lebih baik. Sedikit banyak, cancel culture juga memberi kesan kalau publik figur adalah sosok yang harusnya sempurna, nggak boleh salah, dan harus memuaskan semua pihak. Disadari atau nggak, cancel culture bikin kita (sebagai fans) gampang jadi orang yang selalu menjudge kesalahan orang lain.

Kalau kita tarik lagi ke kasus Tati dan James tadi, cancel culture sebenarnya bukan langkah yang tepat buat dilakukan, terlebih bila alasannya hanya karena ngelihat satu pihak aja or simply just hate one of them. Seperti yang Youtube SPILL bilang di seriesnya tentang kasus Tati dan James, the big issue antara Tati dan James adalah masalah komunikasi antar teman dan etika berbisnis (bekerja sama dan beriklan). Dan sebenarnya kedua hal ini nggak ngasih efek buruk apapun buat kita sebagai netizen.

Sebelum kita meng-cancel seseorang ada baiknya untuk melihat dari kedua sisi, nggak gampang kepincut emosi, apalagi termakan omongan dari pihak-pihak yang justru memperkeruh suasan dan bikin issue-nya jadi tambah melebar kemana-mana. Karena harus diingat lagi, cancel culture harusnya hanya diterapkan untuk kasus yang benar-benar melanggar dari sisi moral dan impact-nya besar banget untuk kehidupan orang banyak, termasuk kita.


Foto: WWD.com, Hercampus.com, studybreaks.com

Related Articles

NGOPI DULU, LALU... SELFIE !

Ngopi cantik demi dapet stock foto yang instagramable banget.

CLICK & DOWNLOAD

Ini beberapa celebrity apps yang worth it untuk kita download bareng-bareng.

NO BAKE CAKE RECIPE

Who doesn’t love cake? But to bake them is another story.

NEW IT COUPLES ALERT

Ada banyak young power couples baru yang seru untuk kita kepoin bareng. Selain Taylor & Calvin, ada siapa lagi ya?

Share Article To

Leave a Comment
0 comments
You must be logged in to post a comment.