Login

or


Email
Password

Whatsnow

INDONESIA TANPA FEMINIS, SETUJU ATAU TIDAK?

Foto: @IndonesiaTanpaFeminis

 

Apakah dengan meniadakan feminisme di negara Indonesia, hak perempuan akan 100% terpenuhi?

Beberapa waktu lalu, media sosial digegerkan dengan viralnya sebuah akun Instagram bernama Indonesia Tanpa Feminis. Akun ini mengampanyekan bahwa Indonesia nggak butuh gerakan feminisme karena bertentangan dengan ajaran agama, yaitu Islam. Karena di dalam Islam, perempuan dinyatakan merupakan makhluk yang mulia dan tidak perlu ada kesetaraan dengan laki-laki.

Di dalam akun tersebut, admin dan para pendukungnya beramai-ramai mengampanyekan “My body is not mine”, sebagai bentuk penolakan atas RUU Penghapusan kekerasan Seksual (RUU PKS) yang mengatur otoritas atas tubuh seorang perempuan.  Menurut akun Indonesia Tanpa Feminis, tubuh yang kita punya semata-mata bukan milik kita, melainkan milik Tuhan. Sehingga, undang-undang yang mengatur tentang tubuh perempuan nggak perlu diadakan.

 

Foto: @IndonesiaTanpaFeminis

Beberapa pendukungnya pun menganggap bahwa RUU PKS ini mengarah pada dukungan atas perzinahan, di mana nantinya setiap orang yang nggak terikat pernikahan bebas untuk melakukan hubungan seksual bila keduanya sepakat, sedangkan seorang suami bisa saja dinyatakan bersalah karena memaksa istri untuk berhubungan seksual, padahal dilakukan dalam hubungan pernikahan yang sah. Dari situlah, tercetus kampanye untuk meniadakan feminisme dengan ramai-ramai menjadikan hashtag #UninstallFeminism menjadi viral.

Kejadian ini pun menjadi viral dengan berbagai pro dan kontra yang muncul di masyarakat. Tapi sebenarnya yang perlu diperhatikan dan harus kita mengerti dulu adalah:

FEMINISME ITU SEBENARNYA APA SIH?

Dalam kamus Oxford, feminisme didefinisikan sebagai pembelaan terhadap hak perempuan, di mana gerakan ini menginginkan adanya kesetaraan hak antara pria dan wanita, baik itu di bidang politik, pendidikan, ekonomi, budaya, juga upaya menghapuskan budaya patriarki. Feminisme ditujukan untuk mematahkan pemahaman yang selama ini udah tertanam bahwa laki-laki selalu ada di posisi yang lebih superior dibanding perempuan, tanpa mendeskriditkan posisi laki-laki itu sendiri.

Gerakan ini awalnya lahir di Eropa dari sebuah perkumpulan perempuan-perempuan terpelajar kalangan bangsawan di Middelburg, Belanda yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet pada tahun 1785. Perkumpulan ini memperjuangkan hak perempuan yang cakupannya masih hanya untuk yang berkulit putih aja. Gerakan ini lalu tersebar hingga ke Amerika dan menjadi berkembang pesat dengan tujuan menyetaraan hak seluruh perempuan.

Foto: coconut(dot)com

Semangat feminisme juga sebenarnya udah lama ada di Indonesia. Kita bisa kembali  mengingat semangat juang R.A Kartini membela hak perempuan, di mana beliau menginginkan perempuan untuk mendapatkan kesempatan dan hak yang sama seperti yang didapat oleh laki-laki, seperti mendapat pendidikan, berpendapat, dan bukan hanya diwajibkan untuk melakukan aktivitas layaknya ibu rumah tangga.  Tentunya kesempatan yang diperjuangkan beliau dan juga para wanita hebat lainnya bertahun-tahun lamanya ini bisa kita rasakan sampai sekarang.

Intinya, feminisme lahir untuk melawan diskriminasi terhadap wanita di ruang pribadi dan ruang publik, sehingga perempuan punya kesempatan yang sama untuk melakukan aktualisasi diri seperti manusia pada umumnya.

 

KESALAH PAHAMAN TERHADAP FEMINISME

Banyak yang menganggap gerakan feminisme nggak cocok berada di Indonesia, karena lahir dari negara barat yang memang mengusung kebebasan atau jiwa liberal yang kuat, hingga bersinggungan dengan nilai-nilai budaya dan agama yang ditanamkan sejak lama.

Tapi perlu kita tau kalau gerakan feminisme lebih dari itu. Feminisme nggak semata-mata akan selalu bertolak belakang dengan agama, terutama Islam. Karena kalau ditelusuri lebih lanjut, semangat feminisme sejalan dengan bagaimana agama Islam memuliakan perempuan. Maka dari itu, perempuan pun harus memperjuangkan hak-nya agar tidak menjadi individu yang selalu tertindas dan menjadi warga kelas dua karena hak-haknya selalu terbatas dibanding laki-laki.

Para pendukung Indonesia Tanpa Feminis mempunyai paham di mana feminisme hanyalah lingkup kecil yang hanya memperjuangkan tubuh untuk berpakaian terbuka, pro akan perzinahan, hingga menjadikan perempuan akan menguasai dunia dan ‘memperbudak’ laki-laki. Padahal semangat feminisme nggak hanya soal itu. Feminisme memperjuangkan hak perempuan dari sisi sosial, ekonomi, politik, pendidikan, hingga pada hak perempuan sebagai manusia secara utuh. Nah, pemaksaan akan penguasaan tubuh yang nggak dikehendaki pemiliknya juga termasuk pelanggaran hukum, dan kita sebagai perempuan wajib menjaga tubuh kita sebagai wujud tanggung jawab atas titipan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena seperti laki-laki, perempuan juga diciptakan mempunyai akal untuk berpikir dan menjaga dirinya.

Sebagai contoh, di tahun 2016 seorang perempuan muslim yang sedang menikmati liburan di pantai Perancis dipaksa untuk melepas baju renang tertutup (burkini) oleh kepolisian, sebagai imbas dari terorisme yang menyerang negara tersebut. Larangan penggunaan burkini di Perancis pun menjadi alasan mengapa aparat keamanan di sana memaksa perempuan bernama Siam tersebut membuka baju renang tertutup itu secara paksa. Tentunya hal ini udah melanggar hak para perempuan muslim untuk menutup auratnya di depan umum.

Foto: Independent(dot)uk

Larangan ini sontak mengundang amarah dan protes dari semua orang di seluruh dunia, muslim dan non-muslim, yang menganggap bahwa negara Perancis telah menyebarkan Islamophobia. Salah satu demo digelar para perempuan dan laki-laki di depan Kedutaan Besar Perancis di London, untuk memaksa Perancis menghapus larangan atas burkini tersebut dan menghilangkan kesan islamophobia. Gerakan ini bisa jadi salah satu contoh bagaimana feminisme juga melindungi hak-hak perempuan muslim dari berbagai aspek.

Foto: guim(dot)uk

Pemahaman yang kurang luas akan feminisme mungkin bisa jadi akar dari terbentuknya pemahaman Indonesia Tanpa Feminis ini. Padahal bisa dibilang, para perempuan baik itu pencetus ataupun pendukung gerakan ini pun sedang melakukan aksi feminisme, yaitu memperjuangkan pendapat dan pemikiran yang diyakininya benar. Tanpa feminisme, mungkin kesempatan membentuk perkumpulan ini juga nggak akan ada, karena untuk berpendapat, berkumpul, atau memperjuangkan hak aja perempuan akan dibatasi banget.

Coba aja bayangin apabila nggak ada feminisme, kita sebagai remaja cewek yang punya impian dan cita-cita yang setinggi langit nggak akan bisa ngeraih itu semua karena kita dianggap nggak punya hak. Sedangkan contoh lain bila konteksnya dikaitkan tentang tubuh, apabila kita berada dalam suatu hubungan abusive (kekerasan) secara fisik, kita tidak bisa stand up to untuk mempertahankan dan melindungi tubuh kita karena terhalang "aturan" tubuh bukan milik kita, ataupun bila menghadapi kasus sexual harassment. Sedih banget kan?

 

HARUSKAH #UNINSTALLFEMINISM ?

Terlepas dari perdebatan antara dua kubu yang pro dan kontra, perlu diingat kalau baik itu laki-laki ataupun perempuan, pada dasarnya kita semua adalah manusia yang punya hak dan diatur secara jelas baik itu Undang-Undang Negara ataupun agama. Kesetaraan hak di antara laki-laki dan perempuan kayaknya nggak akan menjadi kendala kalau masing-masing individu nggak merasa lebih berkuasa, superior, dan lebih dibandingkan individu lain. Kita semua bebas memperjuangkan hak masing-masing, selama hal tersebut membuat kita nyaman dalam menjalankan kehidupan. Perempuan pun adalah makhluk yang punya akal dan pemikiran yang juga patut diperhitungkan seperti halnya laki-laki.

Intinya sesimpel ini, kalau kita bisa menghormati hak dan pilihan orang lain tanpa harus berpatokan pada gender, tentunya nggak perlu repot-repot untuk berbeda pendapat antara pra feminis dan anti-feminis. Selama hak-hak perempuan belum terpenuhi, gerakan feminisme akan tetap berkembang. Dan selama pemahaman akan feminisme masih sempit, selama itu pula hak-hak perempuan akan dianggap nggak sepenting itu untuk diperjuangkan.


Foto: thumbnail picture from Freepik (Background vector created by freepik - www.freepik.com">link)

Related Articles

NGOPI DULU, LALU... SELFIE !

Ngopi cantik demi dapet stock foto yang instagramable banget.

CLICK & DOWNLOAD

Ini beberapa celebrity apps yang worth it untuk kita download bareng-bareng.

NO BAKE CAKE RECIPE

Who doesn’t love cake? But to bake them is another story.

NEW IT COUPLES ALERT

Ada banyak young power couples baru yang seru untuk kita kepoin bareng. Selain Taylor & Calvin, ada siapa lagi ya?

Share Article To

Leave a Comment
0 comments
You must be logged in to post a comment.